Pernah ku dengar
Jika yang serius
Takkan pernah meninggalkan
Dulu sempat ku berpikir
Untuk tetap tinggal
Dan takkan pernah pergi
Sampai di hari itu
Aku tetap di tempat
Menunggu kamu berbalik arah
Namun tidak demikian
Kamu tetap fokus
Melihat ke depan
Entah lupa
Atau sengaja meninggalkan
Aku sekarang menggeser arahku
Tak sehadap denganmu
Hanya bergeser beberapa derajat
Mencoba melangkah
Berdoalah semoga aku akan kembali
Kembali ke tempat awal
Dimana aku menunggumu
Jika aku tidak kembali
Semoga ini yang terbaik
Jika aku kembali
Berbaliklah sebelum semuanya semakin rumit
Aku,
Bella
Aksara sederhana, untuk kamu yang ada disana. Tetap seperti itu, menjadi kamu yang ku kenali. Jangan berubah.
Senin, 27 Juli 2015
Minggu, 26 Juli 2015
Berhati-hatilah
Hai, Tuan
Jika mudah sekali bagimu untuk bertamu
Tidak masalah untukku menyambutmu
Sebagimana mestinya
Pemilik rumah
Menyambut tamu
Jika hanya ingin bertamu sebentar
Segeralah pergi
Bukan mengusir
Mungkin lebih baik begini
Ada peringatan di awal
Sebelum melangkah lebih jauh
Rumahku bukan untuk main main
Jika Tuan berniat buruk
Tidak mengapa
Ku serahkan padaNya
Karena Dia pasti akan memberitahu aku
Bagaimanapun caranya
Semua bisa berubah
Kapan saja
Begitupun dengan pemilik rumah
Dia akan mengusir tamunya
Apabila tamu tersebut gegabah
Berhati-hatilah,
Bella
Jika mudah sekali bagimu untuk bertamu
Tidak masalah untukku menyambutmu
Sebagimana mestinya
Pemilik rumah
Menyambut tamu
Jika hanya ingin bertamu sebentar
Segeralah pergi
Bukan mengusir
Mungkin lebih baik begini
Ada peringatan di awal
Sebelum melangkah lebih jauh
Rumahku bukan untuk main main
Jika Tuan berniat buruk
Tidak mengapa
Ku serahkan padaNya
Karena Dia pasti akan memberitahu aku
Bagaimanapun caranya
Semua bisa berubah
Kapan saja
Begitupun dengan pemilik rumah
Dia akan mengusir tamunya
Apabila tamu tersebut gegabah
Berhati-hatilah,
Bella
Sabtu, 25 Juli 2015
As sweet as sugar
Still Counting
Even we are not always together
Thank you for being my sisters from another mother
Setiap pertemuan yang kita ciptakan
Selalu ada hasil yang mengejutkan
Ternyata sejauh apapun kita melangkah
Kita tetap kembali ke dua kata
Kata yang umum di ungkapkan
Kata pertama itu adalah nyaman
Setelah nyaman
Kita temukan kata berikutnya
Ialah setia
Keduanya saling berkaitan
Sebagaimana kita
Nyaman dan setia
Ternyata menyatukan pikiran dan hati
Tidak semudah berteori
Apabila keduanya tidak menyatu
Maka takkan kita temukan
Nyaman dan setia
Terima kasih telah membuatku
Nyaman dan setia
Sampai sejauh ini
Tahun depan
Kita akan merayakannya
7 tahun kebersamaan kita
Siapa sangka
Sudah sejauh ini
Jika di ibaratkan seorang anak
Mungkin sudah menginjak sekolah dasar
Ku semogakan
Hubungan ini terus berjalan
Sampai nanti raga ini terpisah dari jiwa
Aku sayang kalian,
sangat sayang
Bella
Even we are not always together
Thank you for being my sisters from another mother
Setiap pertemuan yang kita ciptakan
Selalu ada hasil yang mengejutkan
Ternyata sejauh apapun kita melangkah
Kita tetap kembali ke dua kata
Kata yang umum di ungkapkan
Kata pertama itu adalah nyaman
Setelah nyaman
Kita temukan kata berikutnya
Ialah setia
Keduanya saling berkaitan
Sebagaimana kita
Nyaman dan setia
Ternyata menyatukan pikiran dan hati
Tidak semudah berteori
Apabila keduanya tidak menyatu
Maka takkan kita temukan
Nyaman dan setia
Terima kasih telah membuatku
Nyaman dan setia
Sampai sejauh ini
Tahun depan
Kita akan merayakannya
7 tahun kebersamaan kita
Siapa sangka
Sudah sejauh ini
Jika di ibaratkan seorang anak
Mungkin sudah menginjak sekolah dasar
Ku semogakan
Hubungan ini terus berjalan
Sampai nanti raga ini terpisah dari jiwa
Aku sayang kalian,
sangat sayang
Bella
Kamis, 23 Juli 2015
Selamat Datang, Tuan
Selamat datang
Untuk tamu baru
Yang datang tanpa undangan
Semoga kunci yang kau bawa
Sesuai dengan gemboknya
Jika tidak sesuai
Terima kasih telah datang
Menjadi debar
Saat jantung lupa berdetak
Aku agak sulit membiasakan diri
Menyambut yang baru seperti kamu
Karena mungkin masih terbiasa sendiri
Atau trauma
Trauma dengan tamu yang sebelumnya
Datang hanya memberikan kenangan
Pergi dengan kesenangan
Meninggalkan luka yang sedang kuperbaiki perlahan
Selamat datang, tuan
Semoga harimu menyenangkan
Pemilik rumah,
Bella.
Untuk tamu baru
Yang datang tanpa undangan
Semoga kunci yang kau bawa
Sesuai dengan gemboknya
Jika tidak sesuai
Terima kasih telah datang
Menjadi debar
Saat jantung lupa berdetak
Aku agak sulit membiasakan diri
Menyambut yang baru seperti kamu
Karena mungkin masih terbiasa sendiri
Atau trauma
Trauma dengan tamu yang sebelumnya
Datang hanya memberikan kenangan
Pergi dengan kesenangan
Meninggalkan luka yang sedang kuperbaiki perlahan
Selamat datang, tuan
Semoga harimu menyenangkan
Pemilik rumah,
Bella.
Senin, 13 Juli 2015
Secuil Rindu dari Kamu
Bolehkah aku berharap
Mendapatkan pengakuan rindu
Dari kamu
Tanpa aku minta
Ku ingin kau ucapkan saja
Tanpa aku paksa
Ku ingin mengetahuinya
Dari kamu
Tapi, apabila harapan itu semu
Mungkin memang aku tak pantas
Mendapat secuil rindu
Dari kamu
Aku sadar
Rinduku tak terbalaskan
Karena tak ku dapatkan
Secuil rindu itu dari kamu
Rindu kamu bukan untukku
Aku tau pasti
Karena sampai detik ini
Aku belum pernah mendapat pengakuan rindu
Dari kamu
Jelas sekali
Harapan ini hanya aksara saja
Tertulis namun tak nampak nyata
Dari aku yang mengharap secuil rindu,
Byolau.
Mendapatkan pengakuan rindu
Dari kamu
Tanpa aku minta
Ku ingin kau ucapkan saja
Tanpa aku paksa
Ku ingin mengetahuinya
Dari kamu
Tapi, apabila harapan itu semu
Mungkin memang aku tak pantas
Mendapat secuil rindu
Dari kamu
Aku sadar
Rinduku tak terbalaskan
Karena tak ku dapatkan
Secuil rindu itu dari kamu
Rindu kamu bukan untukku
Aku tau pasti
Karena sampai detik ini
Aku belum pernah mendapat pengakuan rindu
Dari kamu
Jelas sekali
Harapan ini hanya aksara saja
Tertulis namun tak nampak nyata
Dari aku yang mengharap secuil rindu,
Byolau.
Senin, 06 Juli 2015
6 Juli 2015
Teruntuk, Mamaku.
42 tahun sudah engkau menjalani hidupmu,
Yang pada awalnya tentu engkau takkan terbayang akan menjadi
bagian dari hidupku dan ku berikan engkau sebuah panggilan Mama, atau menjadi
bagian dari keluarga seorang lelaki yang sekarang sebut saja Imaam untukmu dan
Papa untuk ketiga putramu.
4 bulan sudah, setelah 4 bulan yang lalu. Aku jauh darimu,
Mama.
Aku, Bella. Anak pertamamu yang jika engkau masih ingat,
dulu hampir saja engkau menggugurkan kandunganmu hanya karena sebuah keadaan
dimana memang tidak seharusnya engkau melakukan hal itu. Tentunya jika pada
saat itu engkau melakukannya, maka hari ini engkau tidak akan mendapatkan surat
terbuka yang sengaja aku tulis di blog ini. Supaya bisa selalu terbaca olehku,
dan kemungkinan juga terbaca oleh cucumu. Bahwa neneknya dulu adalah seorang
wanita yang tidak biasa.
42 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani hidup,
asam garam, pahit manis, sudah pasti engkau rasakan.
Aku senang mendengar ceritamu tentang masa kecilmu yang katamu, engkau berambut pirang dengan perawakan kecil mencari kayu membantu ibumu. Terjebak oleh umpan pemilik sawah ketika akan mengambil tumpukan yang engkau kira adalah beras. Bermain main dengan saudaramu. Makan ikan patin. Berenang di sungai. Dan, naik sepeda menuju ke sekolah.Engkau sering membandingkan, zaman dimana engkau hidup perlu berjuang sesemangat mungkin untuk mempertahankan hidupmu dengan zaman sekarang dimana anak-anakmu termasuk aku tidak perlu melakukan hal yang sama seperti apa yang engkau lakukan pada masa mudamu dulu. Dan aku, berterima kasih akan hal itu. Terima kasih telah berjuang untuk aku, Jo, dan Ray. Terima kasih tidak membiarkan kami hidup kekurangan seperti sekarang ini. Terima kasih untuk setiap hembusan nafasmu yang kau prioriitaskan adalah kami, anak-anakmu.
Mama, mungkin ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk
membalas semuanya yang telah engkau lakukan untuk kami sampai detik ini. Tapi percayalah,
ketiga putramu akan berbakti kepadamu dengan cara kami masing-masing. Meski kami
sering membantah pilihanmu atau keinginanmu pada ujungnya kami tetap akan
menuju akhir seperti keinginanmu.
Mama, selamat ulangtahun. Barakallah fii umrik. Semoga Allah selalu melimpahkan berkah-Nya untukmu.Sekali lagi, aku keluhkan. Aku tidak bisa hidup tanpa sosokmu. Masih ingatkah, beberapa hari yang lalu ketika ku adukan padamu bahwa radangku kumat dan aku mulai menangis mengharapkan kehadiranmu……percayalah aku tidak bermaksud membuatmu sedih atau menambah beban pikiranmu yang kebetulan kedua anak lelakimu juga sedang sakit. Tetapi, rasanya pada hari itu dimana ketika engkau berbicara denganku via telephone, rasanya aku memang dalam keadaan kacau. Aku sedang benar-benar rindu, sakit, dan harus tetap belajar karena ujian akhir semester sialan ini yang harusnya bisa kuhadapi tanpa mengeluh. Maafkan kelakuanku yang sepertinya terdengar tidak bertanggungjawab atas pilihanku sendiri untuk hidup jauh darimu seperti ini. Tapi, percayalah lagi padaku. Hidup jauh dari sosokmu bukanlah hal yang mudah, walau apapun alasannya memang bukan hal yang mudah.
Selamat ulangtahun Mama, semoga Allah memanjangkan umurmu
untukku. Supaya aku bisa berbakti kepadamu, sesuai do’amu kepada-Nya. Semoga semakin
sayang dengan Papa, aku, Jo, dan Ray.
Jangan bosan denganku, jangan berhenti berdo’a untukku. Selamat
ulangtahun, Mama.
From Surakarta with love,
Bella.
Senin, 29 Juni 2015
Ramadan Tahun Ini
Lama tak bercerita ternyata hari ini aku memasuki UAS untuk
kenaikan tingkat 2 atau menuju semester 3. Semester 3 yang katanya lebih berat
diantara semester sebelum dan sesudahnya, memilih lanjut kuliah atau menikah? Itu
jika kamu punya calon suami/istri yang siap kamu ajak makan dengan cinta saja…..hahaha
begitulah intermezonya.
Sekarang, sampai tanggaj 11 Juli 2015 aku harus memaksakan
diri untuk membaca setidaknya memahami materi kisi-kisi UAS yang telah
kudapatkan dari dosen. Mencoba memahami, untungnya semenjak aku kost dan jauh
dari televisi syaraf motorik dan sensorikku mudah sekali menangkap apa yang
dibicarakan orang atau penjelasan dari orang lain mengenai hal-hal apapun itu. Atau
bisa di bilang sekarang aku lebih mudah menangkap pembicaraan seseorang
mengenai apapun itu. Cara belajarku mulai seimbang, baik audio maupun visual. Walaupun
tidak begitu sempurna, sekiranya ada perubahan positif dari aku yang
sebelumnya. Daya ingatku juga cukup tajam. Baiklah.
UAS bulan ini aku mengalami pergolakkan emosional yang tidak
stabil, aku lebih mudah marah dan berapi-api, aku lebih mudah terkendali emosi
bukan aku yang mengendalikan emosi. Tetapi aku mencoba meredamnya, aku tahu aku
sekarang berada dimana. Bukan di kota milikku, Jakarta. Bukan, aku sedang
menumpang di kota orang, aku yakin apabila aku tidak bisa mengontrol emosiku
pada beberapa hari ini, habis sudah orang-orang yang hanya bisanya berkomentar
tanpa aksi. Habis!!!!
Kebetulan sekali bulan ini bulan Ramadan, aku semakin
berusaha keras menekan emosiku. Bagaimana juga aku sadar efek apa yang akan
terjadi apabila aku balik melawan mereka. Tenang saja, karma datang tepat
waktu. Kamu hanya perlu duduk disana di tempatmu, jangan banyak bicara terima
saja tamu yang bernama “KARMA”.
Di agamaku diajarkan bagaimana cara berdoa dengan baik, maka
yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah berdoa semoga kamu-kamu-kamu
mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Jazakallah khair.
Ramadan tahun ini berbeda sekali dengan Ramadan tahun lalu,
tahun ini aku sahur dengan menu makanan yang seadanya. Tahun lalu, aku bahkan
bingung mau sahur pakai apa terlebih dahulu. Tahun ini aku berbuka dengan
sesederhana mungkin, menghemat uang bulanan yang diberikan mamaku. Tahun ini
aku mencoba menjual makanan yang mereka sebut martabak mini, lumayan untuk bayar
kost hehehe ternyata banyak juga yang memesan, tetapi banyak juga yang mencibir
ya namanya juga manusia yaaa… Nabi Muhammad SAW yang sempurna aja masih ada
yang benci. Apalagi aku? Aku mah sadar……
Bagian ini, bagian penutup yang menurutku mengharukan. Untuk
pertama kalinya dia sebut saja Masa Depan (aamiin) memberi semangat sekaligus
mengatakan cepat pulang! Memang manusia yang susah di tebak, ya gimana ya.... gak mau
baper juga sih mungkin dia si Masa Depan juga udah pernah berada dalam posisi
menyedihkan begini puasa dan tarawih di kampung orang tanpa orangtua. Jadi yaaaaa
jangan baperrrr hehehehe……
Kamu tau bagaimana sulitnya menerjemahkan perasaan ini,
Antara sebatas obsesi ingin memiliki atau setia menanti
memang beda tipis
Tapi sejauh ini, apabila kamu bertanya apakah aku masih
yakin denganmu?
Maka jawabannya belum berubah,
Jika nanti jawaban keyakinanku bukan lagi kamu, segera aku
beritahukan.
Itu tandanya Allah menjawab do’aku bahwa aku harus
meninggalkan.
Terima kasih, telah menjadi hujan yang selalu dirindukan.
Selamat malam dari aku yang masih meyakini kamu,
Bella
Langganan:
Postingan (Atom)