Lama tak bercerita ternyata hari ini aku memasuki UAS untuk
kenaikan tingkat 2 atau menuju semester 3. Semester 3 yang katanya lebih berat
diantara semester sebelum dan sesudahnya, memilih lanjut kuliah atau menikah? Itu
jika kamu punya calon suami/istri yang siap kamu ajak makan dengan cinta saja…..hahaha
begitulah intermezonya.
Sekarang, sampai tanggaj 11 Juli 2015 aku harus memaksakan
diri untuk membaca setidaknya memahami materi kisi-kisi UAS yang telah
kudapatkan dari dosen. Mencoba memahami, untungnya semenjak aku kost dan jauh
dari televisi syaraf motorik dan sensorikku mudah sekali menangkap apa yang
dibicarakan orang atau penjelasan dari orang lain mengenai hal-hal apapun itu. Atau
bisa di bilang sekarang aku lebih mudah menangkap pembicaraan seseorang
mengenai apapun itu. Cara belajarku mulai seimbang, baik audio maupun visual. Walaupun
tidak begitu sempurna, sekiranya ada perubahan positif dari aku yang
sebelumnya. Daya ingatku juga cukup tajam. Baiklah.
UAS bulan ini aku mengalami pergolakkan emosional yang tidak
stabil, aku lebih mudah marah dan berapi-api, aku lebih mudah terkendali emosi
bukan aku yang mengendalikan emosi. Tetapi aku mencoba meredamnya, aku tahu aku
sekarang berada dimana. Bukan di kota milikku, Jakarta. Bukan, aku sedang
menumpang di kota orang, aku yakin apabila aku tidak bisa mengontrol emosiku
pada beberapa hari ini, habis sudah orang-orang yang hanya bisanya berkomentar
tanpa aksi. Habis!!!!
Kebetulan sekali bulan ini bulan Ramadan, aku semakin
berusaha keras menekan emosiku. Bagaimana juga aku sadar efek apa yang akan
terjadi apabila aku balik melawan mereka. Tenang saja, karma datang tepat
waktu. Kamu hanya perlu duduk disana di tempatmu, jangan banyak bicara terima
saja tamu yang bernama “KARMA”.
Di agamaku diajarkan bagaimana cara berdoa dengan baik, maka
yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah berdoa semoga kamu-kamu-kamu
mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Jazakallah khair.
Ramadan tahun ini berbeda sekali dengan Ramadan tahun lalu,
tahun ini aku sahur dengan menu makanan yang seadanya. Tahun lalu, aku bahkan
bingung mau sahur pakai apa terlebih dahulu. Tahun ini aku berbuka dengan
sesederhana mungkin, menghemat uang bulanan yang diberikan mamaku. Tahun ini
aku mencoba menjual makanan yang mereka sebut martabak mini, lumayan untuk bayar
kost hehehe ternyata banyak juga yang memesan, tetapi banyak juga yang mencibir
ya namanya juga manusia yaaa… Nabi Muhammad SAW yang sempurna aja masih ada
yang benci. Apalagi aku? Aku mah sadar……
Bagian ini, bagian penutup yang menurutku mengharukan. Untuk
pertama kalinya dia sebut saja Masa Depan (aamiin) memberi semangat sekaligus
mengatakan cepat pulang! Memang manusia yang susah di tebak, ya gimana ya.... gak mau
baper juga sih mungkin dia si Masa Depan juga udah pernah berada dalam posisi
menyedihkan begini puasa dan tarawih di kampung orang tanpa orangtua. Jadi yaaaaa
jangan baperrrr hehehehe……
Kamu tau bagaimana sulitnya menerjemahkan perasaan ini,
Antara sebatas obsesi ingin memiliki atau setia menanti
memang beda tipis
Tapi sejauh ini, apabila kamu bertanya apakah aku masih
yakin denganmu?
Maka jawabannya belum berubah,
Jika nanti jawaban keyakinanku bukan lagi kamu, segera aku
beritahukan.
Itu tandanya Allah menjawab do’aku bahwa aku harus
meninggalkan.
Terima kasih, telah menjadi hujan yang selalu dirindukan.
Selamat malam dari aku yang masih meyakini kamu,
Bella
Tidak ada komentar:
Posting Komentar