Senin, 06 Juli 2015

6 Juli 2015



Teruntuk, Mamaku.

42 tahun sudah engkau menjalani hidupmu,
Yang pada awalnya tentu engkau takkan terbayang akan menjadi bagian dari hidupku dan ku berikan engkau sebuah panggilan Mama, atau menjadi bagian dari keluarga seorang lelaki yang sekarang sebut saja Imaam untukmu dan Papa untuk ketiga putramu.

4 bulan sudah, setelah 4 bulan yang lalu. Aku jauh darimu, Mama.

Aku, Bella. Anak pertamamu yang jika engkau masih ingat, dulu hampir saja engkau menggugurkan kandunganmu hanya karena sebuah keadaan dimana memang tidak seharusnya engkau melakukan hal itu. Tentunya jika pada saat itu engkau melakukannya, maka hari ini engkau tidak akan mendapatkan surat terbuka yang sengaja aku tulis di blog ini. Supaya bisa selalu terbaca olehku, dan kemungkinan juga terbaca oleh cucumu. Bahwa neneknya dulu adalah seorang wanita yang tidak biasa.

42 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani hidup, asam garam, pahit manis, sudah pasti engkau rasakan.

Aku senang mendengar ceritamu tentang masa kecilmu yang katamu, engkau berambut pirang dengan perawakan kecil mencari kayu membantu ibumu. Terjebak oleh umpan pemilik sawah ketika akan mengambil tumpukan yang engkau kira adalah beras. Bermain main dengan saudaramu. Makan ikan patin. Berenang  di sungai. Dan, naik sepeda menuju ke sekolah.
Engkau sering membandingkan, zaman dimana engkau hidup perlu berjuang sesemangat mungkin untuk mempertahankan hidupmu dengan zaman sekarang dimana anak-anakmu termasuk aku tidak perlu melakukan hal yang sama seperti apa yang engkau lakukan pada masa mudamu dulu. Dan aku, berterima kasih akan hal itu. Terima kasih telah berjuang untuk aku, Jo, dan Ray. Terima kasih tidak membiarkan kami hidup kekurangan seperti sekarang ini. Terima kasih untuk setiap hembusan nafasmu yang kau prioriitaskan adalah kami, anak-anakmu.

Mama, mungkin ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semuanya yang telah engkau lakukan untuk kami sampai detik ini. Tapi percayalah, ketiga putramu akan berbakti kepadamu dengan cara kami masing-masing. Meski kami sering membantah pilihanmu atau keinginanmu pada ujungnya kami tetap akan menuju akhir seperti keinginanmu.

Mama, selamat ulangtahun. Barakallah fii umrik. Semoga Allah selalu melimpahkan berkah-Nya untukmu.
Sekali lagi, aku keluhkan. Aku tidak bisa hidup tanpa sosokmu. Masih ingatkah, beberapa hari yang lalu ketika ku adukan padamu bahwa radangku kumat dan aku mulai menangis mengharapkan kehadiranmu……percayalah aku tidak bermaksud membuatmu sedih atau menambah beban pikiranmu yang kebetulan kedua anak lelakimu juga sedang sakit. Tetapi, rasanya pada hari itu dimana ketika engkau berbicara denganku via telephone, rasanya aku memang dalam keadaan kacau. Aku sedang benar-benar rindu, sakit, dan harus tetap belajar karena ujian akhir semester sialan ini yang harusnya bisa kuhadapi tanpa mengeluh. Maafkan kelakuanku yang sepertinya terdengar tidak bertanggungjawab atas pilihanku sendiri untuk hidup jauh darimu seperti ini. Tapi, percayalah lagi padaku. Hidup jauh dari sosokmu bukanlah hal yang mudah, walau apapun alasannya memang bukan hal yang mudah.

Selamat ulangtahun Mama, semoga Allah memanjangkan umurmu untukku. Supaya aku bisa berbakti kepadamu, sesuai do’amu kepada-Nya. Semoga semakin sayang dengan Papa, aku, Jo, dan Ray.

Jangan bosan denganku, jangan berhenti berdo’a untukku. Selamat ulangtahun, Mama.


From Surakarta with love,

Bella.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar