Senin, 29 Juni 2015

Ramadan Tahun Ini



Lama tak bercerita ternyata hari ini aku memasuki UAS untuk kenaikan tingkat 2 atau menuju semester 3. Semester 3 yang katanya lebih berat diantara semester sebelum dan sesudahnya, memilih lanjut kuliah atau menikah? Itu jika kamu punya calon suami/istri yang siap kamu ajak makan dengan cinta saja…..hahaha begitulah intermezonya.



Sekarang, sampai tanggaj 11 Juli 2015 aku harus memaksakan diri untuk membaca setidaknya memahami materi kisi-kisi UAS yang telah kudapatkan dari dosen. Mencoba memahami, untungnya semenjak aku kost dan jauh dari televisi syaraf motorik dan sensorikku mudah sekali menangkap apa yang dibicarakan orang atau penjelasan dari orang lain mengenai hal-hal apapun itu. Atau bisa di bilang sekarang aku lebih mudah menangkap pembicaraan seseorang mengenai apapun itu. Cara belajarku mulai seimbang, baik audio maupun visual. Walaupun tidak begitu sempurna, sekiranya ada perubahan positif dari aku yang sebelumnya. Daya ingatku juga cukup tajam. Baiklah.



UAS bulan ini aku mengalami pergolakkan emosional yang tidak stabil, aku lebih mudah marah dan berapi-api, aku lebih mudah terkendali emosi bukan aku yang mengendalikan emosi. Tetapi aku mencoba meredamnya, aku tahu aku sekarang berada dimana. Bukan di kota milikku, Jakarta. Bukan, aku sedang menumpang di kota orang, aku yakin apabila aku tidak bisa mengontrol emosiku pada beberapa hari ini, habis sudah orang-orang yang hanya bisanya berkomentar tanpa aksi. Habis!!!!

Kebetulan sekali bulan ini bulan Ramadan, aku semakin berusaha keras menekan emosiku. Bagaimana juga aku sadar efek apa yang akan terjadi apabila aku balik melawan mereka. Tenang saja, karma datang tepat waktu. Kamu hanya perlu duduk disana di tempatmu, jangan banyak bicara terima saja tamu yang bernama “KARMA”.



Di agamaku diajarkan bagaimana cara berdoa dengan baik, maka yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah berdoa semoga kamu-kamu-kamu mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Jazakallah khair.

Ramadan tahun ini berbeda sekali dengan Ramadan tahun lalu, tahun ini aku sahur dengan menu makanan yang seadanya. Tahun lalu, aku bahkan bingung mau sahur pakai apa terlebih dahulu. Tahun ini aku berbuka dengan sesederhana mungkin, menghemat uang bulanan yang diberikan mamaku. Tahun ini aku mencoba menjual makanan yang mereka sebut martabak mini, lumayan untuk bayar kost hehehe ternyata banyak juga yang memesan, tetapi banyak juga yang mencibir ya namanya juga manusia yaaa… Nabi Muhammad SAW yang sempurna aja masih ada yang benci. Apalagi aku? Aku mah sadar……



Bagian ini, bagian penutup yang menurutku mengharukan. Untuk pertama kalinya dia sebut saja Masa Depan (aamiin) memberi semangat sekaligus mengatakan cepat pulang! Memang manusia yang susah di tebak, ya gimana ya.... gak mau baper juga sih mungkin dia si Masa Depan juga udah pernah berada dalam posisi menyedihkan begini puasa dan tarawih di kampung orang tanpa orangtua. Jadi yaaaaa jangan baperrrr hehehehe……

Kamu tau bagaimana sulitnya menerjemahkan perasaan ini,

Antara sebatas obsesi ingin memiliki atau setia menanti memang beda tipis

Tapi sejauh ini, apabila kamu bertanya apakah aku masih yakin denganmu?

Maka jawabannya belum berubah,

Jika nanti jawaban keyakinanku bukan lagi kamu, segera aku beritahukan.

Itu tandanya Allah menjawab do’aku bahwa aku harus meninggalkan.



Terima kasih, telah menjadi hujan yang selalu dirindukan.



Selamat malam dari aku yang masih meyakini kamu,



Bella