Senin, 23 Mei 2011

I touch the star and I ask something. “Hello star, my name is Bella Yoana Laurenza. I’m only an ordinary girl, and want to be a good woman with the best self.” The star saw me and said “I know who are you before you tell me about all  .” I gave a smile just for star, cause the star knowing all about me before I tell anything. And I ask “Star, why I’m not a perfect girl with a good bodies? Why?” Star just smile and answer my means “You must be thanks to Allah SWT for all your life, your mind, and your bodies. Because Allah won’t you have an arrogant style if Allah give you a perfect bodies. Believe me and trust me, you can changed your self in Allah street. Slow but sure you can have perfectly bodies in someday with your effort and your prays to Allah SWT.

Sorry everybody, after you read my blog you have bad feel. I just share this story. And so sorry too if it has same story with the order story. But, seriously this is my creation  don’t be bored to read my blog again.

Selasa, 17 Mei 2011

Malaikat Mimpiku


Aku hanya mempunyai Tuhanku, Ibuku, Ayahku, dan
Keluargaku
Serta yang menghiburku, yaitu teman-temanku
Aku tau mereka semua menyayangiku
Tapi mengapa, dari sekian banyak orang yang sayang padaku
TAK ADA DIRIMU DISINI !

Apa ini memang takdirku ?
Mengharap yang tidak-tidak ?
Berhayal yang bukan-bukan ?

Menulis puisi bukanlah suatu hal yang sulit dalam hidupku. Mungkin bila aku membukukan semua puisi-puisi buatanku, pastinya semua pembaca tak akan merasa bosan. Walaupun semua puisiku tak seindah puisi buatan WS. Rendra.
Aku adalah Laurenza, anak pertama dari tiga bersaudara. Aku punya dua saudara laki-laki yang sangat aku banggakan. Walaupun tak mudah untuk membuatnya menuruti apa yang aku inginkan.
Tadinya aku adalah anak tunggal dari pasangan Zainal dan Juliana dan cucu terakhir kesayangan (Almh) Mbahku Mursinah. Tetapi takdir berkata lain, saat umurku 7 tahun aku mendapatkan seorang adik laki-laki. Dan setahun kemudian aku mendapatkan adik laki-laki lagi untuk kedua kalinya.
Adik pertamaku bernama Jovanza, dan adik keduaku bernama Ray Faza. Umur mereka hanya berselisih satu tahun lewat satu bulan lewat sehari. Tadinya aku merasa pasti kedua orang tuaku tidak menyayangiku lagi seutuhnya, ternyata tidak. Mereka tetap menyayangiku apa adanya.
Waktu terus berjalan tanpa ada hentinya, aku sekarang telah beranjak remaja. Aku sekarang sekolah di SMP BINTANG EMAS JAKARTA. Aku siswi kelas 2 SMP atau kelas 8. Saat aku berganti pakaian menjadi putih-biru rasanya ada yang aneh, tiba-tiba aku mulai merasakan perasaan yang sebelumnya di Sekolah Dasar tak pernah kurasakan sama sekali.
Aku mulai menyukai lawan jenisku, entah mengapa itu bisa terjadi pada diriku. Pertama aku menyukai kakak kelasku, kedua aku menyukai cowok yang tadinya hanya kuanggap teman saja. Dan setelah itu, kututup hatiku sampai beberapa bulan.
Dan akhirnya, tiga bulan sebelum aku ulangan kenaikan semester dua. Aku bermain bersama teman-temanku, aku melihat dari kejauhan ada seorang anak cowok yang sedang asyik bermain-main dengan sapu yang dia pegang. Mataku tak henti-hentinya melihatnya, dia tak sadar bahwa ada aku yang memperhatikannya.
Setelah cukup lama aku memperhatikannya, aku bertanya pada temanku yang sekelas dengannya. Kebetulan dia pulang bareng denganku setiap hari saat aku kelas satu dulu.
“Eh, Rin!” Sapaku pada Ririn Utami.
“Iyah! Ada apa Za?” Sapaan yang mendapat respon.
 “Gue boleh tanya ga?” (dengan tampang serius).
“Boleh dong, mau tanya apa deh?”
 “Cowok yang kemaren pegang-pegang sapu, lo liat ga? Siapa namanya?”
“Yang mana sih? Gue ga liat!” Jawaban yang singkat dan mengecewakan.
“Ohh, thanks deh.”
Sampai rumah aku terus memikirkannya, wajahnya begitu indah terbayang dibenakku. Sampai terbawa saat aku mandi, makan, sholat, bahkan dalam mimpiku malam itu.
Esok harinya aku terus penasaran, aku turus mencari tahu siapa dia. Bahkan aku nekat menanyakan tentang dia pada seorang guru Bahasa Inggrisku. Guru itu sih bilangnya dia itu ganteng, sambil jadi bahan becandaan gitu deh.
Ternyata aku tau siapa namanya, namanya Esa Sigit. Aku tau nama dia dari si Maimunah temenku yang kebeneran sekelas juga sama Esa. Aku masih terus penasaran sama dia, terus aku nemuin Tata yang ternyata satu jemputan sama dia. Tata ngasih nomor dia, terus malemnya aku coba sms dia.
Esa Sigit 7C bukan?
Iya, ni syp y?
Laurenza kelas 7D. salam kenal ya!
Ah, boong u cwo kan?
Bukan, gw cwe koq J Besok liat aja gw sering pulang bareng Ririn, Rere, sama Jani.
Dpt nope w dari syp?
Dari Tata.
Oh dia.
Iya, see u ya
(Senangnya hati ini bila kau tau, hahaha) ku matikan hapeku dan kuputuskan untuk tidur lebih awal. Sebelum tidur aku berdoa atas smsku yang tidak disia-siakan olehnya.
Besok paginya waktu istirahat di kantin, tiba-tiba Esa ngeliatin aku dari jauh. Wah, mungkin aja dia udah tanya sama temen-temennya aku itu yang mana ckck bagus deh.
Pas pulang dia masih ngeliatin lagi, haha. Eh, malem-malemnya dia sms aku. Uhuy seneng deh. Dia anaknya asyik, seru, dan nyambung kalo di ajak smsan. Tapi gatau deh aslinya gimana.

Engga kerasa udah kenal lumayan lama sama Esa, dia sering ngajarin prediksi. Dia bilang dia punya buku magic dan syarat utama jadi pesulap itu adalah tidak membocorkan trik sulapnya.
Setelah lama aku mengenal dia, ternyata guru Bahasa Inggrisku mengetahui hal itu. Ketika aku sholat zuhur di sekolah, aku diajak ngobrol sama (panggil aja) Mom Ara. Yah, kebongkar semua deh kalo ternyata aku mulai suka sama dia. Dan, ternyata hampir sayang.
Waktu tidak berhenti sampai disana, ternyata kedekatanku dengan Esa mulai tercium oleh teman-temanku dan teman-teman Esa. Sejak saat itulah, dia mulai menjauhiku secara perlahan. Disinilah awal dari aku mulai menyayangi dia, tetapi disini juga dia mulai mengabaikan segala perhatian yang sengaja aku berikan hanya untuknya. Dan dari sinilah aku mulai mengerti apa arti kasih sayang kepada orang yang jelas-jelas baru kukenal dalam kehidupanku.
Aku mulai bingung dengan sikapnya yang benar-benar berubah 360 drajat dari Esa yang dulu. Ternyata inilah awal dari berubahnya sifat ceriaku yang selalu tertawa terbahak-bahak dengan teman-temanku, sikapnya yang mulai cuek membuatku terpaksa meneteskan air mataku. Air mataku ini akan aku persembahkan pertamakalinya hanya untukmu Esa.
Ternyata Esa benar-benar menjauh dariku saat aku mulai menyayanginya, dia mulai menghindar  tiap bertemu denganku, dia mulai tak menganggapku ada dalam hidupnya ketika teman-temannya menyebut-nyebut namaku dengan sengaja.
Rasanya air mataku ingin sekali terus-menerus keluar saat melihat sikapnya yang sekarang  makin menjadi. Aku tak kuat lagi, mengapa dia begitu jahat padaku?
Ulangan umum semester dua tinggal seminggu lagi, aku berharap aku dapat naik ke kelas dua dengan nilai memuaskan. Dan dapat melupakan sosok Esa Sigit yang selalu kupuja setiap malam sebelum tidur.
Alhamdulillah, aku naik kelas dan perlahan mulai melupakannya.

Akupun sudah kelas dua dan aku mendapat teman-teman yang menurutku dapat menerima inilah diriku. Aku sempat melupakan Esa, tapi mengapa ya Allah…
Saat aku berpapasan dengannya, rasanya aku tak dapat menahan semua rasa sayangku dan rinduku untuknya. TETAPI MENGAPA DIA TAK BISA MERASAKAN NYA?
ANDAIKAN KAMU PEKA TERHADAP PERASAANKU SAAT INI, AKU CUMA PENGEN BILANG…
“Kalo deket sama kamu, kamu pasti tau kalo aku sayang sama kamu! Dan aku belum bisa lupain kamu, sebelum KITA BERPISAH UNTUK SELAMANYA!

Semua adalah kuasa Tuhan
Dan semua juga milik Tuhan
Aku yakin sekali hatimu milik Tuhanku
Dan aku sangat yakin sekali
Para Maliakat tau apa do’a yang kupanjatkan untukmu

Walau saat ini aku tak dapat memiliki jiwamu
Tetapi perlu kau tau
Ragamu selalu hadir disetiap malamku
Kupersembahkan untukmu Malaikat Mimpiku

TAMAT

Selasa, 03 Mei 2011

My name's my life :)

Birkanlah aku berlari
Entah kapan akan berhenti
Lelah dan letihku
Lama lama terhapus waktu
Akan berjanji melupakanmu

Ya Tuhan
Omong kosong itu
Akan membuatku terpaku bisu
Namun tidak untuk dia
Anak sempurna yang tak tau apa apa

Lihatlah bulan
Aku berjalan
Untuk menceritakan
Rahasiaku tentangnya
Entah mengapa hatiku gundah
Namun dia tak pernah merasa
Zaman pun tak dapat melupa
Apa lagi aku manusia biasa