Minggu, 26 Juli 2015

Berhati-hatilah

Hai, Tuan
Jika mudah sekali bagimu untuk bertamu
Tidak masalah untukku menyambutmu

Sebagimana mestinya
Pemilik rumah
Menyambut tamu

Jika hanya ingin bertamu sebentar
Segeralah pergi
Bukan mengusir
Mungkin lebih baik begini

Ada peringatan di awal
Sebelum melangkah lebih jauh
Rumahku bukan untuk main main

Jika Tuan berniat buruk
Tidak mengapa
Ku serahkan padaNya
Karena Dia pasti akan memberitahu aku
Bagaimanapun caranya

Semua bisa berubah
Kapan saja
Begitupun dengan pemilik rumah
Dia akan mengusir tamunya
Apabila tamu tersebut gegabah

Berhati-hatilah,

Bella

Sabtu, 25 Juli 2015

As sweet as sugar

Still Counting
Even we are not always together
Thank you for being my sisters from another mother

Setiap pertemuan yang kita ciptakan
Selalu ada hasil yang mengejutkan

Ternyata sejauh apapun kita melangkah
Kita tetap kembali ke dua kata
Kata yang umum di ungkapkan
Kata pertama itu adalah nyaman

Setelah nyaman
Kita temukan kata berikutnya
Ialah setia

Keduanya saling berkaitan
Sebagaimana kita
Nyaman dan setia

Ternyata menyatukan pikiran dan hati
Tidak semudah berteori

Apabila keduanya tidak menyatu
Maka takkan kita temukan
Nyaman dan setia

Terima kasih telah membuatku
Nyaman dan setia
Sampai sejauh ini

Tahun depan
Kita akan merayakannya
7 tahun kebersamaan kita

Siapa sangka
Sudah sejauh ini
Jika di ibaratkan seorang anak
Mungkin sudah menginjak sekolah dasar

Ku semogakan
Hubungan ini terus berjalan
Sampai nanti raga ini terpisah dari jiwa

Aku sayang kalian,
sangat sayang


Bella

Kamis, 23 Juli 2015

Selamat Datang, Tuan

Selamat datang
Untuk tamu baru
Yang datang tanpa undangan

Semoga kunci yang kau bawa
Sesuai dengan gemboknya
Jika tidak sesuai
Terima kasih telah datang
Menjadi debar
Saat jantung lupa berdetak

Aku agak sulit membiasakan diri
Menyambut yang baru seperti kamu
Karena mungkin masih terbiasa sendiri
Atau trauma

Trauma dengan tamu yang sebelumnya
Datang hanya memberikan kenangan
Pergi dengan kesenangan
Meninggalkan luka yang sedang kuperbaiki perlahan

Selamat datang, tuan
Semoga harimu menyenangkan

Pemilik rumah,
Bella.

Senin, 13 Juli 2015

Secuil Rindu dari Kamu

Bolehkah aku berharap
Mendapatkan pengakuan rindu
Dari kamu

Tanpa aku minta
Ku ingin kau ucapkan saja
Tanpa aku paksa
Ku ingin mengetahuinya
Dari kamu

Tapi, apabila harapan itu semu
Mungkin memang aku tak pantas
Mendapat secuil rindu
Dari kamu

Aku sadar
Rinduku tak terbalaskan
Karena tak ku dapatkan
Secuil rindu itu dari kamu

Rindu kamu bukan untukku
Aku tau pasti
Karena sampai detik ini
Aku belum pernah mendapat pengakuan rindu
Dari kamu

Jelas sekali
Harapan ini hanya aksara saja
Tertulis namun tak nampak nyata

Dari aku yang mengharap secuil rindu,
Byolau.


Senin, 06 Juli 2015

6 Juli 2015



Teruntuk, Mamaku.

42 tahun sudah engkau menjalani hidupmu,
Yang pada awalnya tentu engkau takkan terbayang akan menjadi bagian dari hidupku dan ku berikan engkau sebuah panggilan Mama, atau menjadi bagian dari keluarga seorang lelaki yang sekarang sebut saja Imaam untukmu dan Papa untuk ketiga putramu.

4 bulan sudah, setelah 4 bulan yang lalu. Aku jauh darimu, Mama.

Aku, Bella. Anak pertamamu yang jika engkau masih ingat, dulu hampir saja engkau menggugurkan kandunganmu hanya karena sebuah keadaan dimana memang tidak seharusnya engkau melakukan hal itu. Tentunya jika pada saat itu engkau melakukannya, maka hari ini engkau tidak akan mendapatkan surat terbuka yang sengaja aku tulis di blog ini. Supaya bisa selalu terbaca olehku, dan kemungkinan juga terbaca oleh cucumu. Bahwa neneknya dulu adalah seorang wanita yang tidak biasa.

42 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani hidup, asam garam, pahit manis, sudah pasti engkau rasakan.

Aku senang mendengar ceritamu tentang masa kecilmu yang katamu, engkau berambut pirang dengan perawakan kecil mencari kayu membantu ibumu. Terjebak oleh umpan pemilik sawah ketika akan mengambil tumpukan yang engkau kira adalah beras. Bermain main dengan saudaramu. Makan ikan patin. Berenang  di sungai. Dan, naik sepeda menuju ke sekolah.
Engkau sering membandingkan, zaman dimana engkau hidup perlu berjuang sesemangat mungkin untuk mempertahankan hidupmu dengan zaman sekarang dimana anak-anakmu termasuk aku tidak perlu melakukan hal yang sama seperti apa yang engkau lakukan pada masa mudamu dulu. Dan aku, berterima kasih akan hal itu. Terima kasih telah berjuang untuk aku, Jo, dan Ray. Terima kasih tidak membiarkan kami hidup kekurangan seperti sekarang ini. Terima kasih untuk setiap hembusan nafasmu yang kau prioriitaskan adalah kami, anak-anakmu.

Mama, mungkin ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semuanya yang telah engkau lakukan untuk kami sampai detik ini. Tapi percayalah, ketiga putramu akan berbakti kepadamu dengan cara kami masing-masing. Meski kami sering membantah pilihanmu atau keinginanmu pada ujungnya kami tetap akan menuju akhir seperti keinginanmu.

Mama, selamat ulangtahun. Barakallah fii umrik. Semoga Allah selalu melimpahkan berkah-Nya untukmu.
Sekali lagi, aku keluhkan. Aku tidak bisa hidup tanpa sosokmu. Masih ingatkah, beberapa hari yang lalu ketika ku adukan padamu bahwa radangku kumat dan aku mulai menangis mengharapkan kehadiranmu……percayalah aku tidak bermaksud membuatmu sedih atau menambah beban pikiranmu yang kebetulan kedua anak lelakimu juga sedang sakit. Tetapi, rasanya pada hari itu dimana ketika engkau berbicara denganku via telephone, rasanya aku memang dalam keadaan kacau. Aku sedang benar-benar rindu, sakit, dan harus tetap belajar karena ujian akhir semester sialan ini yang harusnya bisa kuhadapi tanpa mengeluh. Maafkan kelakuanku yang sepertinya terdengar tidak bertanggungjawab atas pilihanku sendiri untuk hidup jauh darimu seperti ini. Tapi, percayalah lagi padaku. Hidup jauh dari sosokmu bukanlah hal yang mudah, walau apapun alasannya memang bukan hal yang mudah.

Selamat ulangtahun Mama, semoga Allah memanjangkan umurmu untukku. Supaya aku bisa berbakti kepadamu, sesuai do’amu kepada-Nya. Semoga semakin sayang dengan Papa, aku, Jo, dan Ray.

Jangan bosan denganku, jangan berhenti berdo’a untukku. Selamat ulangtahun, Mama.


From Surakarta with love,

Bella.

Senin, 29 Juni 2015

Ramadan Tahun Ini



Lama tak bercerita ternyata hari ini aku memasuki UAS untuk kenaikan tingkat 2 atau menuju semester 3. Semester 3 yang katanya lebih berat diantara semester sebelum dan sesudahnya, memilih lanjut kuliah atau menikah? Itu jika kamu punya calon suami/istri yang siap kamu ajak makan dengan cinta saja…..hahaha begitulah intermezonya.



Sekarang, sampai tanggaj 11 Juli 2015 aku harus memaksakan diri untuk membaca setidaknya memahami materi kisi-kisi UAS yang telah kudapatkan dari dosen. Mencoba memahami, untungnya semenjak aku kost dan jauh dari televisi syaraf motorik dan sensorikku mudah sekali menangkap apa yang dibicarakan orang atau penjelasan dari orang lain mengenai hal-hal apapun itu. Atau bisa di bilang sekarang aku lebih mudah menangkap pembicaraan seseorang mengenai apapun itu. Cara belajarku mulai seimbang, baik audio maupun visual. Walaupun tidak begitu sempurna, sekiranya ada perubahan positif dari aku yang sebelumnya. Daya ingatku juga cukup tajam. Baiklah.



UAS bulan ini aku mengalami pergolakkan emosional yang tidak stabil, aku lebih mudah marah dan berapi-api, aku lebih mudah terkendali emosi bukan aku yang mengendalikan emosi. Tetapi aku mencoba meredamnya, aku tahu aku sekarang berada dimana. Bukan di kota milikku, Jakarta. Bukan, aku sedang menumpang di kota orang, aku yakin apabila aku tidak bisa mengontrol emosiku pada beberapa hari ini, habis sudah orang-orang yang hanya bisanya berkomentar tanpa aksi. Habis!!!!

Kebetulan sekali bulan ini bulan Ramadan, aku semakin berusaha keras menekan emosiku. Bagaimana juga aku sadar efek apa yang akan terjadi apabila aku balik melawan mereka. Tenang saja, karma datang tepat waktu. Kamu hanya perlu duduk disana di tempatmu, jangan banyak bicara terima saja tamu yang bernama “KARMA”.



Di agamaku diajarkan bagaimana cara berdoa dengan baik, maka yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah berdoa semoga kamu-kamu-kamu mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT. Jazakallah khair.

Ramadan tahun ini berbeda sekali dengan Ramadan tahun lalu, tahun ini aku sahur dengan menu makanan yang seadanya. Tahun lalu, aku bahkan bingung mau sahur pakai apa terlebih dahulu. Tahun ini aku berbuka dengan sesederhana mungkin, menghemat uang bulanan yang diberikan mamaku. Tahun ini aku mencoba menjual makanan yang mereka sebut martabak mini, lumayan untuk bayar kost hehehe ternyata banyak juga yang memesan, tetapi banyak juga yang mencibir ya namanya juga manusia yaaa… Nabi Muhammad SAW yang sempurna aja masih ada yang benci. Apalagi aku? Aku mah sadar……



Bagian ini, bagian penutup yang menurutku mengharukan. Untuk pertama kalinya dia sebut saja Masa Depan (aamiin) memberi semangat sekaligus mengatakan cepat pulang! Memang manusia yang susah di tebak, ya gimana ya.... gak mau baper juga sih mungkin dia si Masa Depan juga udah pernah berada dalam posisi menyedihkan begini puasa dan tarawih di kampung orang tanpa orangtua. Jadi yaaaaa jangan baperrrr hehehehe……

Kamu tau bagaimana sulitnya menerjemahkan perasaan ini,

Antara sebatas obsesi ingin memiliki atau setia menanti memang beda tipis

Tapi sejauh ini, apabila kamu bertanya apakah aku masih yakin denganmu?

Maka jawabannya belum berubah,

Jika nanti jawaban keyakinanku bukan lagi kamu, segera aku beritahukan.

Itu tandanya Allah menjawab do’aku bahwa aku harus meninggalkan.



Terima kasih, telah menjadi hujan yang selalu dirindukan.



Selamat malam dari aku yang masih meyakini kamu,



Bella

Kamis, 26 Maret 2015

Happy Wedding Anniversary, dear mom and dad......

Telah terucap janji, akan sehidup semati
Sampai raga tak lagi berpeluk, sampai nanti
Sampai jiwa tetap bertemu, dalam syurga-Mu
Rukun dan bahagai selalu, mamah dan papahku.…

Selamat hari ulang tahun pernikahan ke-20…..yang artinya 3 hari lagi aku akan berumur 19 tahun.
Mah pah, semoga dengan bertambahnya usia pernikahan mamah dengan papah tahun ini kalian berdua bisa saling lebih mencintai satu sama lain….bisa lebih mencintai aku, Jo, dan Ray lebih dari sebelumnya.

Aku menulis ini sambil membayangkan kelanggengan kalian berdua yang sudah mencapai 20 tahun ini dan semoga sampai nanti kakek nenek…. Pastinya banyak perjalanan bahtera rumah tangga yang tidak selalu lurus yang kalian lewati berdua.

Bagaimana perjalanan cinta kalian sejak pertama kali kalian dipertemukan? Pasti sangat manis untuk kembali di kenang. Aku, anakmu…Bella ingin juga merasakan hal yang semanis itu ah….lebih tepatnya lebih dari sekadar manis dari cerita saat kalian dipertemukan. Hehehe….

Mah, aku berharap kedepannya mamah akan jauh lebih baik lagi dalam mengambil keputusan berupa keputusan apapun termasuk nantinya keputusan menyetujui siapa yang pantas menjadi pendamping hidupku. Oke, kita bahas ini lagi ya mah….udah mau 19 tahun loh masih jomblo ngenes gini mbok mesakke karo aku iki lhoooo opo iyo mengko nek wes arepe wisuda ijek jomblo? Ki piyeeee kiiiii wkwkwk

Baiklah, lupakan saja itu hanya sekadar intermezzo, semoga mamah semakin nurut sama papah ya mah. Aku pernah mendengar bahwa ”Syurga seorang istri ada pada suaminya” seperti itu bunyinya……. Dan semoga mamah semakin sabar menghadapi aku, terutama anak mamah perempuan satu-satunya yang terbiasa manja, apa-apa selalu maunya sendiri, nyebelin, bikin kesel terus, gendut, item, katanya sih jelek…..terus hidup lagi wkwk boong deng aku udah gak kayak gitu kan ya mah? Apalagi nanti kalo kita ketemu, ya pasti semakin ada perubahan dalam diriku. Semoga semakin sabar menghadapi 2 anak laki-laki mamah yang kembar tapi beda itu…..mereka yang akan membela mama mati-matian selain aku. Suatu hari nanti. Percayalah. Apalagi mereka lahir dari rahim seorang ibu yang cerdas, sudah dipastikan mereka takkan lupa darimana asal mereka.

Tetaplah menjadi mamahku yang hatinya lembut seperti sutra, walaupun nada bicaranya tidak lembut seperti wanita jawa karena emang udah turunannya begitu ya tapi tetep aja kan namanya inner beauty tetep terpancar……aku……sayang……..mamah :”)

Dan……………
Teruntuk papahku, YOU ARE STILL BE MY KING EVEN I WILL FIND MY PRINCE CHARMING.
Selamat anniversary ke-20. Papah tau gak apa yang Bella banggain dari papah? Papah sejauh ini setia, tidak pernah sekalipun aku melihat papah berusaha menggoda wanita lain seperti yang dilakukan laki-laki yang seumuran papah pada umumnya sedang puber kedua…..papah begitu setia. Entah bagaimana caranya, papah tetap mencintai mamah. Sampai detik ini, betul kan pah?
Aku berharap, kelak suatu hari nanti…..suamiku seperti papah. Selain tampan, dia harus seperti papah…..setia. Selain setia, papah selalu sabar…jadi calon imaamku juga harus sabar…...terutama sabar mendengar ocehan mamah ketika mamah merasa lelah. Papah lebih memilih diam dan mendengarkan keluh kesah mamah. Ah, pasti bahagia sekali menjadi mamah…..
Pah, terima kasih telah setia bersama kami. Tetap setia lagi sampai nanti aku bisa membuatmu bangga. Aku, anak manis yang manja itu. Yang anak papah satu-satunya wanita yang dulu buat ngurus dirinya aja gak bisaaaaaa yang dulu cuci baju aja malessss yang dulu bisanya makan tidur makan tidur yang dulu males belajar……dulu. Sekarang, aku sudah bukan anak papah yang seperti itu…aamiin, semoga saja.
Pah, mah….. sabar ya? Sedikit lagi Bella wisuda kok… D3 dulu gapapa kan ya? Nanti S1 nyusul…..abis itu lanjut S2….S3 (aamiin)
Semoga kalian tetap sehat, selalu. Semoga tetap dalam jalan Allah dan lindungan-Nya. Aamiin. Barakallah lakum…..
Salam sayang, peluk cium……


Bukan lagi anak manja, Bella.