Teruntuk, Mamaku.
42 tahun sudah engkau menjalani hidupmu,
Yang pada awalnya tentu engkau takkan terbayang akan menjadi
bagian dari hidupku dan ku berikan engkau sebuah panggilan Mama, atau menjadi
bagian dari keluarga seorang lelaki yang sekarang sebut saja Imaam untukmu dan
Papa untuk ketiga putramu.
4 bulan sudah, setelah 4 bulan yang lalu. Aku jauh darimu,
Mama.
Aku, Bella. Anak pertamamu yang jika engkau masih ingat,
dulu hampir saja engkau menggugurkan kandunganmu hanya karena sebuah keadaan
dimana memang tidak seharusnya engkau melakukan hal itu. Tentunya jika pada
saat itu engkau melakukannya, maka hari ini engkau tidak akan mendapatkan surat
terbuka yang sengaja aku tulis di blog ini. Supaya bisa selalu terbaca olehku,
dan kemungkinan juga terbaca oleh cucumu. Bahwa neneknya dulu adalah seorang
wanita yang tidak biasa.
42 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani hidup,
asam garam, pahit manis, sudah pasti engkau rasakan.
Aku senang mendengar ceritamu tentang masa kecilmu yang
katamu, engkau berambut pirang dengan perawakan kecil mencari kayu membantu
ibumu. Terjebak oleh umpan pemilik sawah ketika akan mengambil tumpukan yang
engkau kira adalah beras. Bermain main dengan saudaramu. Makan ikan patin. Berenang
di sungai. Dan, naik sepeda menuju ke
sekolah.
Engkau sering membandingkan, zaman dimana engkau hidup perlu
berjuang sesemangat mungkin untuk mempertahankan hidupmu dengan zaman sekarang
dimana anak-anakmu termasuk aku tidak perlu melakukan hal yang sama seperti apa
yang engkau lakukan pada masa mudamu dulu. Dan aku, berterima kasih akan hal
itu. Terima kasih telah berjuang untuk aku, Jo, dan Ray. Terima kasih tidak
membiarkan kami hidup kekurangan seperti sekarang ini. Terima kasih untuk
setiap hembusan nafasmu yang kau prioriitaskan adalah kami, anak-anakmu.
Mama, mungkin ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk
membalas semuanya yang telah engkau lakukan untuk kami sampai detik ini. Tapi percayalah,
ketiga putramu akan berbakti kepadamu dengan cara kami masing-masing. Meski kami
sering membantah pilihanmu atau keinginanmu pada ujungnya kami tetap akan
menuju akhir seperti keinginanmu.
Mama, selamat ulangtahun. Barakallah fii umrik. Semoga Allah
selalu melimpahkan berkah-Nya untukmu.
Sekali lagi, aku keluhkan. Aku tidak bisa hidup tanpa
sosokmu. Masih ingatkah, beberapa hari yang lalu ketika ku adukan padamu bahwa
radangku kumat dan aku mulai menangis mengharapkan kehadiranmu……percayalah aku
tidak bermaksud membuatmu sedih atau menambah beban pikiranmu yang kebetulan
kedua anak lelakimu juga sedang sakit. Tetapi, rasanya pada hari itu dimana
ketika engkau berbicara denganku via telephone, rasanya aku memang dalam
keadaan kacau. Aku sedang benar-benar rindu, sakit, dan harus tetap belajar
karena ujian akhir semester sialan ini yang harusnya bisa kuhadapi tanpa
mengeluh. Maafkan kelakuanku yang sepertinya terdengar tidak bertanggungjawab
atas pilihanku sendiri untuk hidup jauh darimu seperti ini. Tapi, percayalah
lagi padaku. Hidup jauh dari sosokmu bukanlah hal yang mudah, walau apapun
alasannya memang bukan hal yang mudah.
Selamat ulangtahun Mama, semoga Allah memanjangkan umurmu
untukku. Supaya aku bisa berbakti kepadamu, sesuai do’amu kepada-Nya. Semoga semakin
sayang dengan Papa, aku, Jo, dan Ray.
Jangan bosan denganku, jangan berhenti berdo’a untukku. Selamat
ulangtahun, Mama.
From Surakarta with love,
Bella.